Definisi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Berikut sebagian hasil dari diskusi saya dengan beberapa mahasiswa yang ikut Teaching Club mengenai definisi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan kita. Bukankah seharusnya kita mengikuti pikiran-pikirana beliau. Bahkan cara pandang beliau Tut Wuri Handayani dijadikan simbol untuk pendidikan di sekolah-sekolah kita.

Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan secara holistik. Hal ini tercermin dalam asas pendidikan Ki Hajar Dewantara. Asas ini digunakan dalam Perguruan Taman Siswa Yogyakarta. Asas ini ada lima sehingga dikenal dengan Panca Darma. Kelima asas tersebut adalah (1) kodrat alam, (2) kemerdekaan, (3) kebudayaan, (4) kebangsaan dan (5) kemanusian.

Asas pertama. Ki Hajar Dewantara memandang bahwa manusia dari kodrat alamnya. Sifat kodrati ini yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Sifat itu adalah setiap manusia memiliki daya jiwa yaitu daya cipta, daya rasa dan daya karsa. Daya cipta berkaitan dengan kemampuan pikiran seseorang dalam mencipta sesuatu. Daya rasa berhubungan dengan emosi atau perasaan dalam mewujudkan yang dicipta tersebut. Daya karsa berkaitan dengan ketrampilan dalam mewujudkan sesuatu yang dicipta tersebut. Singkatnya “educate the head, the heart and the hand”. Artinya mendidik pikiran, hati/karakter dan tangan/keterampilan. Dengan demikian, pendidikan seharusnya ditujukan untuk mengembangkan ketiga daya tersebut secara seimbang sehinga seseroang dapat berkembang sebagai manusia seutuhnya. Pendidikan harus dapat memanusiakan manusia (humanisasi). Dengan demikian, pendidikan harus dapat menjadikan manusia yang pintar/cerdas, berkarakter dan berkeahlian.

Selain itu, kodrat alam manusia berkaitan dengan manusia sebagai makhluk sosial. Artinya manusia harus dapat berinteraksi dengan makhluk ciptaan lainnya yaitu manusia lainnya dan lingkungannya (tumbuh-tumbuhan dan hewan). Manusia akan memperoleh kebahagian bila ia menyatu dengan kodrat alamnya. Ini berarti secara kodrati, pengembangan daya jiwa manusia harus bermanfaat bagi masyakarat dan lingkungannya. Paradigma pendidikan dewasa ini adalah pendidikan seperti melepas siswa dari lingkungannya dan masyarakat. Dengan kata lain, pendidikan belum dapat menumbuhkan dalam diri siswa rasa peduli terhadap masyarakat di sekitarnya dan rasa cinta terhadap lingkungan. Dengan demikian, pendidikan seharusnya dapat menciptakan manusia pintar/cerdas, berkarakter dan berkeahlian yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya.

Pendidikan yang hanya menitikberatkan pada salah satu daya saja akan menyebabkan ketidakutuhan perkembangan seseorang sebagai manusia. Sebagai contoh, pendidikan yang hanya dapat memintarkan orang tetapi tidak memiliki perasaan/sikap/karakter yang baik akan memunculkan pejabat-pejabat/pemimpin-pemimpin yang korup. Atau, orang yang pintar dan berkarakter yang baik tetapi tidak terampil dalam mewujudkannya, maka akan menjadi manusia yang NATO (no action, talk only). Manusia yang tanpa aksi, hanya berbicara saja. Begitu pula, orang yang berkarakter baik, tetapi tidak pintar/cerdas, maka tujuan yang ingin dicapainya tidak akan terwujud.

Asas kedua. Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan harus dapat memerdakan manusia baik secara fisik (pikiran) maupun mental (batin). Merdeka secara pikiran artinya pendidikan harus dapat mendidik siswa agar secara bebas dapat mencari sendiri pengetahuan dan secara bebas pula menerapkannya. Merdeka secara batin artinya siswa terlepas dari perasaan takut, tertekan atau terjajah dalam mengembangkan daya kodratinya. Kemerdekaan ini merupakan “hak diri” setiap siswa. Akan tetapi, hak diri diri dibatasi oleh prinsip “tertib damai”. Artinya setiap manusia berhak mendapat kebebasan seluas-luasnya dengan syarat tidak merugikan tertib damainya masyakarat. Kepentingan masyarakat di atas kepentingan diri. Dengan demikian, pendidikan seharusnya dilaksanakan dalam suasana keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggung jawab dan disiplin.

Asas ketiga. Perguruan Taman Siswa yang didirikan Ki Hajar Dewantara sangat memperhatikan kebudayaan. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa keluhuran budi/kesusilaan dan kehalusan budi adalah dua sifat yang dimiliki manusia yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Keluhuran budi dan kesusilaan dapat diperoleh oleh siswa melalui agama, dunia pewayangan, babad, cerita (legenda atau mitos), biografi pahlawan dan sebagainya. Sedangkan, kehalusan budi dapat diperoleh siswa melalui kesenian seperti permainan, nyanyian, tarian dan musik. Sejak Taman Siswa dibuka, kesenian daerah digali, dikembangkan dan disebarluaskan. Salah satu kesenian daereh yang disebarluaskan pada saat itu adalah tembang dan dolanan (permainan) anak-anak. Penyebarluasannya melalui cabang-cabang Taman Siswa yang ada di Indonesia. Bahkan beberapa sekolah lain seperti sekolah “Mardigarini” dari Institut Sigit datang ke Taman Siswa untuk belajar dolanan anak-anak. Taman Siswa juga sangat memperhatikan tari sebagai alat untuk memperhalus budi siswa-siswanya. Ki Hajar Dewantara bersama Pengeran Surjadiningrat dan Pangeran Tedja Kusuma menyebarluaskan tari-tari yang semula hanya dipelajari oleh kalangan istana kepada siswa-siswa Taman Siswa. Bahkan setiap hari Rabu, siswa-siswa Taman Siswa berlatih tari Jawa di pendapa disaksikan oleh Ki dan Nyi Hajar Dewantara bersama dua Pangeran tersebut.

Asas keempat. Ki Hajar Dewantara adalah pahlawan Nasional yang hidup pada jaman penjajahan dan salah satu tokoh pencetus Sumpah Pemuda sehingga asas pendidikan keempat ini dipengaruhi oleh kondisi bangsa Indonesia saat itu. Semboyan pendidikan saat ini adalah “kembali kepada yang bersifat Nasional”. Pendidikan kebangsaan di Taman Siswa dilakukan dengan penggunaan bahasa Ibu atau bahasa Melayu baru (yang dikenal dengan bahasa Indonesia) sebagai bahasa pengantar di sekolah. Selain itu, pendidikan kebangsaan dilakukan melalui melalui etika, sejarah dan kesenian.

 

Asas kelima. Menurut Ki Hajar Dewantara dharma tiap-tiap manusia adalah mewujudkan kemanusiaan. Rasa kemanusiaan dapat dilihat dengan adanya rasa cinta kasih terhadap sesama manusia dan makhluk lainnya (hewan dan tumbuhan). Ini berarti pendidikan tidak boleh melepas manusia dari manusia lainnya atau melepas manusia dengan lingkungan sekitarnya. Masalah yang timbul dewasa ini seperti kekerasan antar siswa dan pengrusakan lingkungan oleh manusia akan terjawab jika asas ini digunakan sebagai landasan pendidikan Nasional.

Berdasarkan asas-asas di atas, beberapa penulis telah mendefinisikan mengenai pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara.

  1. Pendidikan adalah proses untuk menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyakaratnya, yang bertanggung jawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian. Secara sederhana, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia muda (Riyanto, 2014).
  2. Pendidikan adalah kegiatan memberi ilmu pengetahuan, menuntun gerak pikiran serta melatih kecakapan/kepandaian anak didik kita agar mereka kelak menjadi orang pandai, berpengetahuan dan certa; serta menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam hidup anak didik kita, supaya mereka kelak mejadi manusia yang beradab dan bersusila (Suratman, 1985).
  3. Pendidikan adalah sautu kegiatan yang bertujuan untuk membangun anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir batin, luhur akal budinya serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya (Depdikbud, 1985)

Berdasarkan asas-asas Pendidikan Ki Hajar Dewantara dan beberapa definsi pendidikan di atas, maka penulis mendefinisikan pendidikan Ki Hajar Dewantara sebagai proses memanusiakan manusia dengan cara olah cipta, olah rasa dan oleh karsa sehingga siswa menjadi manusia yang pandai/cerdas, berkarakter dan berkeahlian yang berguna bagi masyarakat dan lingkungannya.

 

Tentang Jackson Pasini Mairing

Dosen Universitas Palangkaraya, Kalimantan Tengah
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s