TEORI BELAJAR BARAT, PALING BAIK?

Saat ini pendidikan kita cenderung berkiblat ke barat. Sebut saja teori konstrukstivisme individual yang dikembangkan Jean Piaget (berkebangsaan Perancis). Atau teori konstruktivisme sosial yang dikembangkan Lev Vygotsky (berkebangsaan Rusia). Dan masih banyak lagi teori-teori belajar “BARAT”. Pendidikan kita cenderung ke barat, artinya pendidikan Barat lebih baik dari pendidikan kita saat ini yang bernuansa “TIMUR”?

Saya mengambil contoh Australia (negara Barat) yang maju pendidikannya. Saya pernah melihat bagaimana pembelajaran di satu sekolah di Australia (walaupun memang tidak mencerminkan keseluruhan sekolah di Australia), pada saat gurunya membelajarkan siswanya dengan sebuah video pembelajaran, siswa-siswa yang duduk di belakang mengangkat kakinya di atas meja dan bermain. Hampir setiap 10 menit guru tersebut berkata “Be Quiet, Please!”. Rasa-rasanya di Indonesia hampir tidak ada yang ketika gurunya dalam kelas, siswanya berani mengangkat kakinya di atas meja. Akan tetapi, begitulah budaya barat yang mengagungkan kebebasan individu. Bukankah, itu sesuai dengan teori-teori belajarnya.

Pertanyaannya bagaimana budaya Timur Indonesia mengadaptasi teori-teori belajar yang lahir dari budaya barat? Di Australia, siswa-siswa tidak tergantung pada gurunya. Saya merasa takjub dengan siswa di sana yang dapat belajar berjam-jam di perpustakaan untuk belajar sendiri. Perpustakaan di sana selalu penuh dengan siswa-siswa. Berbeda dengan di Indonesia, sosok guru masih dominan terutama di sekolah dasar. Bahkan seorang siswa SD yang apabila kita beri tahu cara lain menyelesaikan suatu soal yang berbeda dengan yang dikerjakan guru akan berkata “itu salah, karena tidak sesuai dengan cara bu guru”. Bagaimana menjembatani kedua budaya yang berbeda ini apabila kita seringkali menggunakan teori-teori belajar Barat?

Pertanyaannya adalah apakah kita bangsa Indonesia tidak memiliki tokoh pendidikan yang pendapatnya dapat kita gunakan saat ini sebagai acuan pembelajaran. Jauh sebelum Bloom mengemukakan aspek-aspek hasil belajar dalam kognitif, afektif dan psikomotor. Tokoh pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara telah mengemukakan olah pikir, olah rasa dan olah karsa. Seandainya pendidikan kita menganut salah satu dari buah pikir Ki Hajar Dewantara yaitu Tut Wuri Handayani (di depan menjadi contoh), maka permasalahan-permasalahan di Indonesia mungkin dapat diselesaikan. Contoh yang sederhana, kalau pemimpin-pemimpin kita dapat memberi contoh hidup “bersih”, maka masyarakat akan mencontoh dari pemimpinnya. Begitu pula, apabila guru-guru dapat menjadi model etika yang baik bagi siswa-siswanya, maka kemungkinan besar siswa-siswa kita juga memiliki perilaku yang baik.

Pertanyaannya adalah mengapa kita belum mengarahkan pembelajaran di kelas kepada buah pikir Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara? Memang banyak pertanyaan lain yang muncul seputar bagai menerapkan secara nyata pendapat Bapak Pendidikan kita tersebut dalam kelas.

Saya mengundang pembaca untuk memberikan masukan/komentar terhadap tulisan ini.

Tentang Jackson Pasini Mairing

Dosen Universitas Palangkaraya, Kalimantan Tengah
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s