Benarkah Matematika Sulit?

Sebagian besar orang akan setuju dengan pendapat bahwa matematika itu sulit. Akan tetapi, menurut pendapat saya (pembaca boleh setuju atau tidak) bahwa matematika itu mudah bagi yang sudah tahu. Apapun itu akan terasa sulit jika kita tidak mengetahui bagaimana menyelesaikannya. Sebaliknya, jika kita sudah tahu, maka hal itu akan menjadi mudah bagi kita. Sebagai contoh, bagi siswa kelas 1 SD, mencari hasil 7 x 8 sulit, karena mereka belum belajar dan belum tahu konsep perkalian. Akan tetapi, bagi anak kelas 6 SD, soal itu menjadi mudah karena mereka telah belajar dan telah memahami konsep perkalian. Jadi, mudah atau sulit sesungguhnya bergantung dari apakah kita sudah tahu atau belum.

Pertanyaannya adalah bagaimana agar matematika mudah bagi siswa? Bayangkan jika ada seorang guru ketika masuk kelas ia berkata “anak-anak kalian harus belajar yang rajin karena matematika itu sulit”. Besoknya, ia berkata lagi “materi yang akan dipelajari sulit, jadi kalian harus memperhatikan dengan sungguh-sunguh”. Hampir setiap kali guru itu masuk ia berkata “sulit, sulit dan sulit”. Menurut pembaca kalau siswa-siswanya ditanya apakah matematika itu sulit, kira-kira apa jawaban mereka?

Bandingkan dengan seorang guru matematika, ketika ia masuk dengan senyum dan berkata kepada siswa-siswanya “anak-anak, hari ini kita akan mempelajari sesuatu yang menyenangkan, karena kita akan bermain dengan benda-benda yang ada di sekitar kita”. Besoknya, guru itu berkata “anak-anak, hari ini kita akan belajar sesuatu yang penting”. Pertemuan berikutnya, “materi berikut ini mudah, karena kita akan belajar menggunakan kancing berwarna ini”. Kira-kira apa jawaban siswa kalau ditanya matematika itu mudah atau sulit?”.

Seringkali terjadi, matematika itu sulit bagi siswa karena gurunya juga menganggap matematika itu sulit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap guru terhadap matematika merupakan faktor dominan yang mempengaruhi sikap siswa terhadap matematika (Ruffel, 1998). Ini berarti agar siswa-siswa kita memiliki sikap positif terhadap matematika, maka perlu bagi guru memiliki sikap yang positif. Dengan kata lain, agar siswa-siswa menganggap matematika itu mudah, maka gurunya perlu terlebih dahulu menganggap matematika itu mudah.

Apakah dengan memiliki sikap positif cukup untuk membuat matematika itu mudah? Belum, banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor lainnya adalah cara siswa belajar matematika. Hasil penelitian Akinsola (2008) menunjukkan bahwa cara siswa belajar mempengaruhi sikap siswa terhadap matematika.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara siswa belajar matematika agar ia mengganggap bahwa matematika itu mudah? Konsep matematika merupakan ide-ide abstrak. Contohnya, apakah di dunia ini benda yang merupakan persegipanjang. Jawabannya, tidak ada. Kertas yang berbentuk persegipanjang bukanlah persegipanjang karena ia memiliki tinggi walaupun sangat kecil. Kertas berbentuk persegipanjang merupakan wakil (representasi) dari konsep persegipanjang. Sebaliknya, siswa-siswa kita terutama di SD baru mencapai tahap operasional konkrit dimana mereka belajar menggunakan benda-benda konkrit. Terjadi paradoks, konsep matematika adalah abstrak, sedangkan siswa belajar dengan benda konkrit. Disinilah letak tantangan sekaligus hal yang menarik bagi guru, bagaimana agar konsep yang bersifat abstrak dapat dipahami oleh siswa yang belajar menggunakan benda-benda konkrit?

Sekarang menurut pembaca, mana dari kedua kegiatan belajar berikut yang menjawab pertanyaan di atas. Pertama, guru berkata “anak-anak, jajargenjang adalah bangun segiempat dimana sepasang-sepasang sisi yang berhadapan sejajar, berikut adalah contoh-contoh dari jajargenjang”. Kegiatan belajarnya dari definisi konsep (abstrak) kemudian diberikan contoh (konkrit). Kedua, guru berkata “anak-anak, berikut adalah contoh-contoh bangun yang berbentuk jajargenjang, kita akan mencari sifat-sifat jajargenjang untuk mencari tahu apa itu jajargenjang”. Kegiatan belajarnya dari contoh (konkrit) kemudian membentuk definisi konsep (abstrak). Kegiatan belajar kedua secara lengkap dapat diunduh di jackonmairing.wordpress.com.

Kegiatan belajar kedualah yang menjawab pertanyaan di atas. Bukan hanya itu, jika dibaca secara lengkap kegiatan belajar kedua, maka kita akan mengetahui bahwa siswalah yang menjadi pusat belajarnya. Siswa yang aktif menemukan konsep dan mengonstruksi pengetahuannya bekerjasama dengan teman-temannya. Bukankah lebih menyenangkan dalam belajar bila kita yang aktif dalam belajar, menemukan konsep dan memecahkan masalah matematika? Saat ini telah banyak para ahli menawarkan pembelajaran matematika yang menyenangkan. Ulasan singkat mengenai pembelajaran yang demikian dapat pembaca unduh juga di jackonmairing.wordpress.com.

Berdasarkan uraian di atas, setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi pendapat siswa mengenai matematika, apakah sulit atau mudah? Kedua faktor tersebut adalah sikap guru terhadap matematika dan cara siswa belajar matematika di kelas. Seperti yang sering saya ungkap dalam kuliah “segala sesuatu mudah apabila kita sudah tahu”. Semoga semboyan ini juga menjadi semboyan kita semua.

 

DAFTAR PUSTAKA

Akinsola, M.K. & F. Olowojaiye. 2008. “Teacher Instructional Methods and Students Attitudes Towards Mathematics”. International Electronic Journal of Mathematics Education. III(1): 60–73.

Ruffel, M., Mason, J., Allen, B. 1998. Studying Attitude to Mathematics. Educational Studies in Mathematics. XXXV(1): 1–18.

Tentang Jackson Pasini Mairing

Dosen Universitas Palangkaraya, Kalimantan Tengah
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s