Beberapa Ide Penelitian dari International Seminar on Innovation and Technology for Mathematics and Mathematics Education di UNY

Tanggal 26 – 30 Nopember 2014, saya mengikuti seminar internasional di Universitas Negeri Yogyakarta. Banyak hal baru yang saya pelajari dari narasumber dari berbagai negara lain. Ada yang dari Jepang, Thailand, Singapura, Perancis, Australia, UK dan Amerika. Selain itu saya juga dapat mengetahui penelitian-penelitian apa saja yang sedang berkembang saat ini di Indonesia dari artikel-artikel yang dimuat dalam prosiding.

Beberapa judul artikel yang menarik  yang ada di prosiding seminar tersebut adalah sebagai berikut (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia).

  1. Indentifikasi kesulitan siswa-siswa di Indonesia dalam menyelesaikan tugas matematika berbasis konteks (PISA).
  2. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa melalui pembelajaran pelangi matematika
  3. Meningkatkan penalaran matematis siswa menggunakan metode penemuan berbantuan algbrator.
  4. Pengaruh PMR terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VII SMP 3 Mandau

Bagi mahasiswa yang belum menulis, maka salah satu tips dari saya agar cepat lulus adalah banyak membaca artikel-artikel penelitian. Berdasarkan apa yang dibaca maka akan muncul ide-ide penelitian yang dilakukan nanti. Tanpa ide penelitian, tentunya tidak akan ada skripsi.

Jadi selamat membaca dan belajar.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PENELITIAN KUANTITATIF

Pendekatan penelitian kuantitatif sering digunakan oleh mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Salah satu karakteristik penelitian ini adalah data dan analisisnya kuantitatif. Beberapa analisis kuantitatif yang digunakan oleh mahasiswa adalah uji-t, Analisis Ragam, Uji normalitas, Uji Homogenitas, Regresi, Korelasi atau Analisis Jalur.

Untuk mempelajari lebih lengkap silahkan terlebih dahulu mengunduh dengan mengklik PENELITIAN KUANTITATIF.

Selamat membaca,

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PERJUANGAN : SEBUAH KISAH KECIL

Hari ini saya bersama mahasiswa belajar matakuliah Analisis Real 2. Sebagian besar sepakat bahwa matakuliah ini sangat menantang karena berisi pembuktian matematika. Akan tetapi, bagi sebagian kecil orang, matakuliah ini sangat menarik karena melatih kita untuk berpikir sistematis, kritis dan kreatif. Bukankah orang-orang kreatif akan lebih berhasil dalam hidupnya? Selain itu, matakuliah ini mengajak kita untuk menjadi orang yang tahan uji. Sebagai contoh, misalkan seseorang menghadapi masalah pembuktian matematika yang “menantang” (saya tidak suka mengatakan sulit, karena didunia ini tidak ada yang “sulit” yang ada hanyalah tidak “tahu”), bagi orang yang gampang menyerah, ketika ia berusaha dan tidak bisa, maka ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa masalah itu memang diluar kemampuannya.

Akan tetapi, bagi orang yang mau terus mengasah kemampuannya dan terus berusaha untuk menyelesaikannya dengan cara membaca buku/teori kembali, mencoba menyelesaikan kembali atau bertanya pada orang lain, maka akan muncul karakter “tahan uji”. Pengalaman saya menunjukkan bahwa kalau kita terus berusaha dan pantang menyerah maka masalah sesulit apa pun pasti dapat kita selesaikan. Ini sesuai dengan motto hidup saya “di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, yang ada hanyalah tidak mau”.

Motto ini muncul ketika saya menonton film kungfu Cina pada waktu SMP. Ada seorang anak kecil yang badannya paling kurus di antara teman-temannya. Karena kurus itu, ia tidak dapat berlatih kungfu seperti yang lain dan hanya menjadi tukang sapu. Akan tetapi karena kemauannya yang kuat untuk berlatih kungfu, maka pada saat teman-temannya berlatih kungfu, ia berusaha melihat dan memahaminya. Waktu malam hari, saat teman-temannya sudah tertidur lelap, anak kurus tadi berlatih kungfu sendiri dengan mengulang apa yang dilihatnya hari itu. Suatu malam, guru kungfunya memperhatikan apa yang dilakukan oleh si anak kurus tadi dan ia berkata suatu kalimat yang saya ingat hingga saat ini yaitu motto hidup saya tadi.

Bagi mahasiswa yang sedang belajar Analisis Real 2 dan bagi pembaca,

BERJUANGLAH DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH UNTUK MERAIH APA YANG DICITA-CITAKAN, KARENA DI DUNIA INI TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN YANG ADA HANYALAH TIDAK MAU.

Selamat bekerja dan berjuang.

Salam 3 Jari

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

APAKAH BENAR PENELITIAN KUALITATIF TIDAK VALID DAN TIDAK RELIABEL?

Ada orang yang berpendapat bahwa penelitian yang baik adalah penelitian kuantitatif, sedangkan penelitian yang kurang baik adalah penelitian kualitatif. Ini karena pada penelitian kualitatif data-data bisa “direkayasa” dan hasilnya “tidak valid dan tidak reliabel”. Pendapat ini kurang tepat, bukankah dalam penelitian kuantitatif pun peneliti bisa mengubah nilai siswa dari 40 menjadi 70. Yang penting bukanlah jenis penelitiannya tetapi moral peneliti. Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasution, M.Sc., seorang pakar statistika di Indonesia, pernah berkata pada waktu kuliah perdana yang saya ikuti mengenai prinsip dasar dari moral peneliti yaitu “GIGO (Garbage In Garbage Out)”. Yang berarti sampah yang masuk, sampah juga yang keluar. Jika peneliti merekayasa data, maka yang masuk adalah SAMPAH, maka hasil penelitiannya juga SAMPAH. Bukankah kita sebagai peneliti tidak mau dan tidak senang kalau hasil penelitian kita dibilang sampah. Dengan demikian, seorang peneliti perlu menjunjung moral atau etika penelitian.

Pendapat kedua mengenai penelitian kualitatif adalah hasilnya tidak valid dan tidak reliabel. Pendapat ini pun kurang tepat karena dalam penelitian kualitatif juga ada kriteria yang berkaitan dengan tingkat kepercayaan penelitian. Kriteria tersebut adalah (a) kredibilitas (credibility), (b) dependabilitas (dependability), (c) transferabilitas (transferability) dan (d) konfirmabilitas (confirmability). Kriteria kredibilitas dan dependabilitas pada penelitian kualitatif secara berurutan sejajar dengan validitas dan reliabilitas pada penelitian kuantitatif. Ini berarti dalam penelitian kualitataif juga ada kriteria yang sejajar dengan validitas dan reliabilitas dalam penelitian kuantitatif.

            Kriteria kredibilitas merujuk pada apakah data yang diperoleh sesuai dengan apa yang ada dalam realitas (kenyataan di lapangan). Kriteria kredibilitas dapat dipenuhi dengan:

(a)   selama mungkin dengan subjek penelitian (prolonged engangement on-site),

(b)   melakukan pengamatan terus menerus/ konsisten dan pantang menyerah (persistent/consistent observation),

(c)   memeriksa keabsahan data yang diperoleh dari berbagai sumber (triangulation),

(d)  konsistensi hubungan antara data-data yang diperoleh (structural relationships), dan

(e)   menganalisis semua kemungkinan dari data termasuk hal-hal yang menyimpang/negatif (negative case analysis).

            Kriteria dependabilitas merujuk pada apakah seseorang dapat mengikuti prosedur-prosedur dan proses-proses yang digunakan untuk mengumpulkan dan menginterpretasi data. Penelitian kualitatif berkualitas apabila menyediakan penjelasan yang terperinci mengenai bagaimana mengumpulkan dan menganalisis data. Kriteria dependabilitas dapat dipenuhi peneliti dengan membuat dokumentasi yang jelas dan terperinci mengenai bagaimana mengumpulkan dan menganalisis data (leaving an audit trail).

Meskipun pada penelitian kualitatif tidak diharapkan hasil-hasil penelitiannya dapat digeneralisasi ke semua konteks, tetapi apa yang dipelajari dalam satu konteks dapat berguna pada konteks lainnya. Akan tetapi, peneliti kualitatif perlu menekankan dengan tegas bahwa pembaca harus membuat penilaian ini. Kesesuaian apa yang dipelajari itu tergantung pada kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan latar penelitian. Kriteria transferabilitas merujuk pada derajat kesamaan antara latar penelitian dengan latar lainnya yang ditentukan oleh pembaca. Kriteria transferabilitas dapat dipenuhi oleh peneliti dengan memberikan deskripsi yang lengkap mengenai subjek penelitian dan konteks dimana penelitian berlangsung.

Kriteria konfirmabilitas sejajar dengan kriteria objektivitas pada penelitian kuantitatif. Kriteria ini menjadi bukti bahwa (a) interpretasi peneliti dari konstruksi subjek betul-betul didasarkan pada konstruksi subjek itu sendiri dan (b) analisis data, temuan penelitian dan kesimpulan dapat diverifikasi dan didasarkan pada persepsi subjek. Kriteria konfirmabilitas dapat dipenuhi dengan cara meninjau kembali kenetralan interpretasi data (neutrality).

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Definisi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Berikut sebagian hasil dari diskusi saya dengan beberapa mahasiswa yang ikut Teaching Club mengenai definisi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan kita. Bukankah seharusnya kita mengikuti pikiran-pikirana beliau. Bahkan cara pandang beliau Tut Wuri Handayani dijadikan simbol untuk pendidikan di sekolah-sekolah kita.

Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan secara holistik. Hal ini tercermin dalam asas pendidikan Ki Hajar Dewantara. Asas ini digunakan dalam Perguruan Taman Siswa Yogyakarta. Asas ini ada lima sehingga dikenal dengan Panca Darma. Kelima asas tersebut adalah (1) kodrat alam, (2) kemerdekaan, (3) kebudayaan, (4) kebangsaan dan (5) kemanusian.

Asas pertama. Ki Hajar Dewantara memandang bahwa manusia dari kodrat alamnya. Sifat kodrati ini yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Sifat itu adalah setiap manusia memiliki daya jiwa yaitu daya cipta, daya rasa dan daya karsa. Daya cipta berkaitan dengan kemampuan pikiran seseorang dalam mencipta sesuatu. Daya rasa berhubungan dengan emosi atau perasaan dalam mewujudkan yang dicipta tersebut. Daya karsa berkaitan dengan ketrampilan dalam mewujudkan sesuatu yang dicipta tersebut. Singkatnya “educate the head, the heart and the hand”. Artinya mendidik pikiran, hati/karakter dan tangan/keterampilan. Dengan demikian, pendidikan seharusnya ditujukan untuk mengembangkan ketiga daya tersebut secara seimbang sehinga seseroang dapat berkembang sebagai manusia seutuhnya. Pendidikan harus dapat memanusiakan manusia (humanisasi). Dengan demikian, pendidikan harus dapat menjadikan manusia yang pintar/cerdas, berkarakter dan berkeahlian.

Selain itu, kodrat alam manusia berkaitan dengan manusia sebagai makhluk sosial. Artinya manusia harus dapat berinteraksi dengan makhluk ciptaan lainnya yaitu manusia lainnya dan lingkungannya (tumbuh-tumbuhan dan hewan). Manusia akan memperoleh kebahagian bila ia menyatu dengan kodrat alamnya. Ini berarti secara kodrati, pengembangan daya jiwa manusia harus bermanfaat bagi masyakarat dan lingkungannya. Paradigma pendidikan dewasa ini adalah pendidikan seperti melepas siswa dari lingkungannya dan masyarakat. Dengan kata lain, pendidikan belum dapat menumbuhkan dalam diri siswa rasa peduli terhadap masyarakat di sekitarnya dan rasa cinta terhadap lingkungan. Dengan demikian, pendidikan seharusnya dapat menciptakan manusia pintar/cerdas, berkarakter dan berkeahlian yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya.

Pendidikan yang hanya menitikberatkan pada salah satu daya saja akan menyebabkan ketidakutuhan perkembangan seseorang sebagai manusia. Sebagai contoh, pendidikan yang hanya dapat memintarkan orang tetapi tidak memiliki perasaan/sikap/karakter yang baik akan memunculkan pejabat-pejabat/pemimpin-pemimpin yang korup. Atau, orang yang pintar dan berkarakter yang baik tetapi tidak terampil dalam mewujudkannya, maka akan menjadi manusia yang NATO (no action, talk only). Manusia yang tanpa aksi, hanya berbicara saja. Begitu pula, orang yang berkarakter baik, tetapi tidak pintar/cerdas, maka tujuan yang ingin dicapainya tidak akan terwujud.

Asas kedua. Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan harus dapat memerdakan manusia baik secara fisik (pikiran) maupun mental (batin). Merdeka secara pikiran artinya pendidikan harus dapat mendidik siswa agar secara bebas dapat mencari sendiri pengetahuan dan secara bebas pula menerapkannya. Merdeka secara batin artinya siswa terlepas dari perasaan takut, tertekan atau terjajah dalam mengembangkan daya kodratinya. Kemerdekaan ini merupakan “hak diri” setiap siswa. Akan tetapi, hak diri diri dibatasi oleh prinsip “tertib damai”. Artinya setiap manusia berhak mendapat kebebasan seluas-luasnya dengan syarat tidak merugikan tertib damainya masyakarat. Kepentingan masyarakat di atas kepentingan diri. Dengan demikian, pendidikan seharusnya dilaksanakan dalam suasana keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggung jawab dan disiplin.

Asas ketiga. Perguruan Taman Siswa yang didirikan Ki Hajar Dewantara sangat memperhatikan kebudayaan. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa keluhuran budi/kesusilaan dan kehalusan budi adalah dua sifat yang dimiliki manusia yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Keluhuran budi dan kesusilaan dapat diperoleh oleh siswa melalui agama, dunia pewayangan, babad, cerita (legenda atau mitos), biografi pahlawan dan sebagainya. Sedangkan, kehalusan budi dapat diperoleh siswa melalui kesenian seperti permainan, nyanyian, tarian dan musik. Sejak Taman Siswa dibuka, kesenian daerah digali, dikembangkan dan disebarluaskan. Salah satu kesenian daereh yang disebarluaskan pada saat itu adalah tembang dan dolanan (permainan) anak-anak. Penyebarluasannya melalui cabang-cabang Taman Siswa yang ada di Indonesia. Bahkan beberapa sekolah lain seperti sekolah “Mardigarini” dari Institut Sigit datang ke Taman Siswa untuk belajar dolanan anak-anak. Taman Siswa juga sangat memperhatikan tari sebagai alat untuk memperhalus budi siswa-siswanya. Ki Hajar Dewantara bersama Pengeran Surjadiningrat dan Pangeran Tedja Kusuma menyebarluaskan tari-tari yang semula hanya dipelajari oleh kalangan istana kepada siswa-siswa Taman Siswa. Bahkan setiap hari Rabu, siswa-siswa Taman Siswa berlatih tari Jawa di pendapa disaksikan oleh Ki dan Nyi Hajar Dewantara bersama dua Pangeran tersebut.

Asas keempat. Ki Hajar Dewantara adalah pahlawan Nasional yang hidup pada jaman penjajahan dan salah satu tokoh pencetus Sumpah Pemuda sehingga asas pendidikan keempat ini dipengaruhi oleh kondisi bangsa Indonesia saat itu. Semboyan pendidikan saat ini adalah “kembali kepada yang bersifat Nasional”. Pendidikan kebangsaan di Taman Siswa dilakukan dengan penggunaan bahasa Ibu atau bahasa Melayu baru (yang dikenal dengan bahasa Indonesia) sebagai bahasa pengantar di sekolah. Selain itu, pendidikan kebangsaan dilakukan melalui melalui etika, sejarah dan kesenian.

 

Asas kelima. Menurut Ki Hajar Dewantara dharma tiap-tiap manusia adalah mewujudkan kemanusiaan. Rasa kemanusiaan dapat dilihat dengan adanya rasa cinta kasih terhadap sesama manusia dan makhluk lainnya (hewan dan tumbuhan). Ini berarti pendidikan tidak boleh melepas manusia dari manusia lainnya atau melepas manusia dengan lingkungan sekitarnya. Masalah yang timbul dewasa ini seperti kekerasan antar siswa dan pengrusakan lingkungan oleh manusia akan terjawab jika asas ini digunakan sebagai landasan pendidikan Nasional.

Berdasarkan asas-asas di atas, beberapa penulis telah mendefinisikan mengenai pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara.

  1. Pendidikan adalah proses untuk menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyakaratnya, yang bertanggung jawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian. Secara sederhana, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia muda (Riyanto, 2014).
  2. Pendidikan adalah kegiatan memberi ilmu pengetahuan, menuntun gerak pikiran serta melatih kecakapan/kepandaian anak didik kita agar mereka kelak menjadi orang pandai, berpengetahuan dan certa; serta menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam hidup anak didik kita, supaya mereka kelak mejadi manusia yang beradab dan bersusila (Suratman, 1985).
  3. Pendidikan adalah sautu kegiatan yang bertujuan untuk membangun anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir batin, luhur akal budinya serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya (Depdikbud, 1985)

Berdasarkan asas-asas Pendidikan Ki Hajar Dewantara dan beberapa definsi pendidikan di atas, maka penulis mendefinisikan pendidikan Ki Hajar Dewantara sebagai proses memanusiakan manusia dengan cara olah cipta, olah rasa dan oleh karsa sehingga siswa menjadi manusia yang pandai/cerdas, berkarakter dan berkeahlian yang berguna bagi masyarakat dan lingkungannya.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

RODA PENDIDIKAN …

Suatu waktu saya membaca tulisan yang mengatakan bahwa

“Hidup itu seperti Roda yang berputar. Ya hidup itu seperti roda, kadang kita berada di atas, kadang pula kita berada di bawah”.

Saya sangat setuju dengan tulisan tersebut.

Bahkan saya mencoba mengaitkannya dengan dunia pendidikan. Saat ini roda pendidikan kita sedang berusaha naik dengan menerapkan kurikulum baru yang dikenal dengan Kurikulum 2013. Baru-baru ini, saya mengikuti sosialisasi kurikulum 2013. Fasilitator dalam kegiatan tersebut berpendapat bahwa guru-guru kita saat ini masih bingung dan merasa sulit dalam menerapkan kurikulum ini. Fasilitator juga bertanya mengenai tahap yang paling sulit dalam pendekatan saintifik yang dianut dalam kurikulum 2013. Apa yang diungkapkan cenderung mengungkapkan sisi negatifnya yaitu kesulitan dalam menerapkannya. Padahal sebuah roda yang ingin bergerak naik membutuhkan energi yang lebih besar dibanding dengan roda yang ingin bergerak turun. Energi tersebut adalah kemauan untuk maju dan cara pandang positif. Saya menuliskan ini agar mahasiswa-mahasiswa yang mau melakukan penelitian berkaitan dengan kurikulum 2013 tidak takut atau tidak ditakut-takutin oleh orang lain.

Sebenarnya kurikulum 2013 bukanlah hal yang baru buat bangsa kita. Beberapa sekolah yang saya ketahui, jauh-jauh hari sebelumnya telah menerapkan kurikulum ini dan berhasil. Inti dari kurikulum dari 2013 adalah pengembangan manusia indonesia yang berkarakter, cerdas dan terampil. Saya dan beberapa mahasiswa “hebat” berusaha mendefinisikan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan kita. Hasil refleksi kami bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia dengan cara olah rasa, olah cipta dan olah karsa sehingga siswa-siswa menjadi manusia Indonesia yang berakhlak/berkarakter, cerdas dan berkeahlian serta berguna bagi lingkungan dan masyarakat.

Siswa-siswa akan memilik karakter yang baik, jika guru-guru terlebih dahulu menjadi model karakter bagi siswa-siswanya. Sangat kecil kemungkinan siswa akan disiplin jika gurunya sering terlambat masuk ke kelas. Sangat kecil kemungkinan siswa mencintai matematika jika gurunya tidak mencintai matematika dan hampir tiap pertemuan mengatakan bahwa matematika itu “sulit”. Jadi guru harus memberi teladan bagi murid-muridnya. Bukankah ini sesuai dengan pendapat Ki Hajar Dewantara yaitu “Ing ngarso sung tulodo”. Setelah guru menjadi model, maka guru perlu berada di tengah-tengah siswa untuk menggerakkan siswa agar mengikuti apa yang telah dimodelkan guru. Kembali lagi prinsip ini adalah “Ing madya mangun karso”. Setelah siswa-siswa mengikuti, maka peran guru memantau agar perilaku baik tersebut menjadi karakter siswa. Hal ini sejalan dengan prinsip “Tut Wuri Handayani”. Ketiga prinsip Ki Hajar Dewantara ini dapat digunakan untuk menjadikan siswa-siswa kita berkarakter, cerdas dan berkeahlian. Pendapat saya adalah kita perlu kembali merefleksikan pikiran-pikiran beliau dan menerapkannya, agar roda pendidikan kita berada di atas. Saya membuat istilah 3M untuk pandangan Ki Hajar Dewantara yaitu Menjadi model, Menggerakkan dan Memantau.

Bagi mahasiswa dan guru yang ingin menerapkan Kurikulum 2013, kita pasti dapat menerapkan Kurikulum ini, karena bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Keberhasilan pelaksanaannya sangat tergantung pada kemauan kita untuk berubah dan menerapkannya di kelas.

Saya juga ingin memberikan pendapat mengenai Roda Kehidupan yaitu “dimana pun kita berada, entah di bawah atau di atas, jalanilah kehidupan dengan tersenyum dan semangat untuk menyambut hari esok yang lebih baik”.

Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

TEORI BELAJAR BARAT, PALING BAIK?

Saat ini pendidikan kita cenderung berkiblat ke barat. Sebut saja teori konstrukstivisme individual yang dikembangkan Jean Piaget (berkebangsaan Perancis). Atau teori konstruktivisme sosial yang dikembangkan Lev Vygotsky (berkebangsaan Rusia). Dan masih banyak lagi teori-teori belajar “BARAT”. Pendidikan kita cenderung ke barat, artinya pendidikan Barat lebih baik dari pendidikan kita saat ini yang bernuansa “TIMUR”?

Saya mengambil contoh Australia (negara Barat) yang maju pendidikannya. Saya pernah melihat bagaimana pembelajaran di satu sekolah di Australia (walaupun memang tidak mencerminkan keseluruhan sekolah di Australia), pada saat gurunya membelajarkan siswanya dengan sebuah video pembelajaran, siswa-siswa yang duduk di belakang mengangkat kakinya di atas meja dan bermain. Hampir setiap 10 menit guru tersebut berkata “Be Quiet, Please!”. Rasa-rasanya di Indonesia hampir tidak ada yang ketika gurunya dalam kelas, siswanya berani mengangkat kakinya di atas meja. Akan tetapi, begitulah budaya barat yang mengagungkan kebebasan individu. Bukankah, itu sesuai dengan teori-teori belajarnya.

Pertanyaannya bagaimana budaya Timur Indonesia mengadaptasi teori-teori belajar yang lahir dari budaya barat? Di Australia, siswa-siswa tidak tergantung pada gurunya. Saya merasa takjub dengan siswa di sana yang dapat belajar berjam-jam di perpustakaan untuk belajar sendiri. Perpustakaan di sana selalu penuh dengan siswa-siswa. Berbeda dengan di Indonesia, sosok guru masih dominan terutama di sekolah dasar. Bahkan seorang siswa SD yang apabila kita beri tahu cara lain menyelesaikan suatu soal yang berbeda dengan yang dikerjakan guru akan berkata “itu salah, karena tidak sesuai dengan cara bu guru”. Bagaimana menjembatani kedua budaya yang berbeda ini apabila kita seringkali menggunakan teori-teori belajar Barat?

Pertanyaannya adalah apakah kita bangsa Indonesia tidak memiliki tokoh pendidikan yang pendapatnya dapat kita gunakan saat ini sebagai acuan pembelajaran. Jauh sebelum Bloom mengemukakan aspek-aspek hasil belajar dalam kognitif, afektif dan psikomotor. Tokoh pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara telah mengemukakan olah pikir, olah rasa dan olah karsa. Seandainya pendidikan kita menganut salah satu dari buah pikir Ki Hajar Dewantara yaitu Tut Wuri Handayani (di depan menjadi contoh), maka permasalahan-permasalahan di Indonesia mungkin dapat diselesaikan. Contoh yang sederhana, kalau pemimpin-pemimpin kita dapat memberi contoh hidup “bersih”, maka masyarakat akan mencontoh dari pemimpinnya. Begitu pula, apabila guru-guru dapat menjadi model etika yang baik bagi siswa-siswanya, maka kemungkinan besar siswa-siswa kita juga memiliki perilaku yang baik.

Pertanyaannya adalah mengapa kita belum mengarahkan pembelajaran di kelas kepada buah pikir Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara? Memang banyak pertanyaan lain yang muncul seputar bagai menerapkan secara nyata pendapat Bapak Pendidikan kita tersebut dalam kelas.

Saya mengundang pembaca untuk memberikan masukan/komentar terhadap tulisan ini.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar